BREAKING NEWS
Isu Sertifikasi Damkar Berbayar Dipastikan Tidak Benar | Ratusan Taruna Akpol Turun ke Aceh Tamiang, Polri Dorong Akselerasi Pemulihan Pascabencana | Waketum LAHAM RI Akram Pasau dan Ketua DPW Gorontalo Janes Komenaung Minta DPD Tidak Mendukung Perusahaan | Patroli Pantera Presisi Polres Bitung Hadir di Tengah Masyarakat, Jaga Kota Tetap Aman dan Nyaman | Polsek Singkil Klarifikasi Pengaduan Warga yang Viral di Media Sosial

Kampung Sawah Mentok: Kisah Warga Pesisir dan Dilema Tambang PIP yang Menopang Hidup


Penulis: Belva Al akhab, Satrio, Joy, kemis dan Tim 

Mentok, Bangka Barat, Sumsel pos. web. Id— Di saat laut berubah menjadi ruang yang tak lagi ramah bagi nelayan kecil, warga pesisir Kampung Sawah menemukan cara lain untuk bertahan. Sabtu (24/1/2026), aktivitas Tambang Timah dengan metode Ponton Isap Produksi (PIP) di wilayah kerja Kampung Sawah menyalurkan dana kompensasi kepada masyarakat sebuah peristiwa yang oleh warga setempat dimaknai sebagai hadirnya harapan di tengah lesunya ekonomi laut.

Dana kompensasi sebesar Rp2.700.000 diserahkan secara terbuka kepada pengurus Surau Kampung Sawah, Bapak Romli, serta perangkat RT/RW 04 Kampung Sawah. Dana ini dialokasikan untuk berbagai kebutuhan bersama yaitu nelayan pesisir, masyarakat umum, panitia lingkungan, masjid atau surau, hingga biaya operasional sosial kemasyarakatan.

Penyerahan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan simbol relasi yang dibangun antara aktivitas produksi dan kehidupan warga. Dalam banyak konflik pertambangan, momen semacam ini kerap menjadi garis tipis antara penolakan dan penerimaan sosial sebuah kesepakatan lokal yang lahir dari kebutuhan nyata masyarakat.

Ketua RT 01 Kampung Sawah, Mak Li, menyebut keberadaan tambang PIP kini menjadi salah satu penyangga kehidupan warga, terutama nelayan kecil yang terpukul oleh cuaca laut ekstrem dan hasil tangkapan yang kian menurun.

“Di saat hasil laut menurun dan penghasilan nelayan berkurang, aktivitas tambang PIP ini sangat membantu masyarakat. Walaupun jumlahnya tidak besar, yang penting berkah dan bisa menopang kebutuhan nelayan serta kas masjid atau surau,” ujarnya.

Bagi warga Kampung Sawah, kompensasi ini tidak dibaca sebagai angka di atas kertas, melainkan sebagai perpanjangan napas. Ketika perahu lebih sering terikat di tepi dermaga daripada melaut, bantuan semacam ini memastikan dapur tetap menyala dan kehidupan tetap berjalan.

Surau Kampung Sawah yang selama ini menjadi pusat ibadah, musyawarah dan tempat berbagi keluh kesah ikut merasakan dampak langsung dari aliran dana tersebut. Di ruang itulah, tambang dan warga bertemu dalam bahasa solidaritas.

Di balik kondusivitas aktivitas tambang PIP di Kampung Sawah, Bang Rusdan, selaku Ketua Panitia kegiatan, memegang peran penting sebagai penjaga keseimbangan antara kepentingan produksi dan penerimaan sosial.

“Kami berusaha menjaga kegiatan ini tetap nyaman dan kondusif bagi penambangan. Harapannya produksi timah di wilayah Kampung Sawah bisa meningkat dan yang paling penting, benar-benar didukung oleh masyarakat dan nelayan pesisir,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kepercayaan warga merupakan modal utama yang harus dijaga bersama, terutama terhadap CV MBP sebagai mitra produksi yang bekerja berdasarkan Surat Perintah Kerja (SPK) PT TIMAH Tbk.

“Kepercayaan ini harus dijaga. Produksi timah harus dilakukan dengan baik dan benar, sesuai aturan. Kita saling menjaga demi kepentingan masyarakat dan nelayan,” tambahnya.

Dalam narasi Kampung Sawah, tambang tidak ingin tampil sebagai kekuatan asing, melainkan sebagai bagian dari denyut kampung hadir, dikenal dan diterima.

Aktivitas tambang PIP di Kampung Sawah tidak semata dipahami sebagai proses ekstraksi sumber daya alam, tetapi sebagai bagian dari dinamika sosial-ekonomi pesisir yang terus bernegosiasi dengan keadaan. Kesepakatan lokal, distribusi kompensasi qdan keterlibatan tokoh masyarakat membentuk relasi kuasa yang relatif stabil di tingkat kampung.

Meski demikian, di balik narasi harmoni tersebut, tetap tersimpan pertanyaan tentang masa depan ruang hidup pesisir, posisi nelayan kecil dalam jangka panjang dan sejauh mana mekanisme kompensasi mampu menjawab dampak ekologis yang mungkin muncul. Pertanyaan-pertanyaan itu hidup berdampingan dengan kebutuhan hari ini, kebutuhan untuk bertahan.

Bagi warga Kampung Sawah hari ini, selama ada kesepakatan, transparansi, dan manfaat yang dirasakan langsung, aktivitas tambang masih dipandang sebagai bagian dari denyut pembangunan kampung. Dari ponton yang bekerja di laut hingga surau yang tetap menyala di darat, relasi antara tambang dan masyarakat dibingkai dalam bahasa kerja sama, kepercayaan, dan kebutuhan bersama.

Di Kampung Sawah, pembangunan tidak hadir sebagai janji besar, melainkan sebagai praktik kecil yang menyentuh kehidupan sehari-hari. Sebuah harmoni yang tumbuh bukan karena laut kembali ramah, melainkan karena warga menemukan cara untuk tetap hidup ketika laut tak lagi memberi.
Baca Juga
أحدث أقدم
);
f t P
GULIR UNTUK MELANJUTAKAN MELIHAT BERITA
SUMSELPOS
BERITA SUMATRA BAGIAN SELATAN