BREAKING NEWS
Isu Sertifikasi Damkar Berbayar Dipastikan Tidak Benar | Ratusan Taruna Akpol Turun ke Aceh Tamiang, Polri Dorong Akselerasi Pemulihan Pascabencana | Waketum LAHAM RI Akram Pasau dan Ketua DPW Gorontalo Janes Komenaung Minta DPD Tidak Mendukung Perusahaan | Patroli Pantera Presisi Polres Bitung Hadir di Tengah Masyarakat, Jaga Kota Tetap Aman dan Nyaman | Polsek Singkil Klarifikasi Pengaduan Warga yang Viral di Media Sosial
🕌 JADWAL SHOLAT HARI INI: Subuh 04:30 | Dzuhur 12:00 | Ashar 15:15 | Maghrib 18:00 | Isya 19:15 WIB || ☀️ CUACA HARI INI: Cerah Berawan, Suhu 28°C || 💰 HARGA EMAS HARI INI: Rp 1.250.000 per gram || 🕌 JADWAL SHOLAT BESOK: Subuh 04:31 | Dzuhur 12:00 | Ashar 15:15 | Maghrib 18:00 | Isya 19:16 WIB || 🌧️ CUACA BESOK: Hujan Ringan, Suhu 26°C || 💰 HARGA EMAS BESOK (PERKIRAAN): Rp 1.245.000 per gram
🏠 Berita>Update

PSSI Bangka Barat Tegakkan Keadilan Bakat: Seleksi Terbuka PORPROV VII 2026 Dimulai dari Desa




Penulis: Medi Hestri, Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

Mentok, Bangka Barat — PSSI Kabupaten Bangka Barat resmi membuka Seleksi Pemain Tim Sepakbola menuju PORPROV VII Bangka Belitung 2026 secara terbuka dan berbasis zonasi kecamatan. Seleksi digelar pada 11–13 Februari 2026 di Lapangan Gorip, Desa Penyampak, Kecamatan Tempilang, menyasar pemain kelahiran 1 Januari 2007 hingga 31 Desember 2009. Tahap awal melibatkan Kecamatan Kelapa dan Tempilang, sementara Jebus, Parit Tiga, Mentok dan Simpang Teritip dijadwalkan menyusul setelah Ramadan.

Langkah ini menandai komitmen PSSI Bangka Barat dalam memperluas akses dan membangun sistem pembinaan yang lebih adil serta transparan, dengan membuka ruang bagi seluruh talenta muda desa tanpa memandang latar belakang klub maupun kedekatan struktural.

Ketua Umum PSSI Bangka Barat, Allani, S.E., menegaskan bahwa seleksi terbuka bukan sekadar agenda teknis menuju kompetisi, melainkan bagian dari reformasi cara pandang terhadap bakat.

“Di negeri ini, kita terlalu sering mengira pemain hebat hanya lahir dari klub besar dan fasilitas mahal. Padahal banyak pemain besar justru lahir dari desa, dari keterbatasan. Bakat tidak pernah memilih alamat,” ujar Allani, melalui via telepon, Rabu (11/02/2026)

Menurutnya, yang kerap hilang bukan kemampuan anak-anak, melainkan kesempatan untuk terlihat.

“Kalau seleksi hanya terpusat di satu tempat, yang datang itu-itu saja. Dengan zonasi, kita mendekatkan sistem ke anak-anak, bukan memaksa mereka mendekat ke sistem,” tegasnya.

Secara struktural, PORPROV VII 2026 memang menjadi tujuan formal. Namun PSSI Bangka Barat menempatkannya sebagai etape dalam pembangunan jangka panjang.

“PORPROV itu tujuan antara. Yang lebih penting adalah fondasi pembinaan berkelanjutan. Jangan sampai setelah PORPROV selesai, sistemnya ikut selesai,” kata Allani.

Pendekatan ini sejalan dengan Pedoman Pembinaan Sepakbola Usia Muda Indonesia (PSSI, 2020) yang menekankan pentingnya perluasan partisipasi di tahap awal sebagai basis pembentukan talenta jangka panjang.

Dalam kajian pengembangan olahraga, Bailey dan Collins (2010) menyebut bahwa sistem seleksi yang inklusif dan tidak bias geografis akan memperbesar peluang lahirnya atlet unggul.

PSSI Bangka Barat tampak berupaya menerjemahkan gagasan itu ke dalam kebijakan konkret.

Untuk menjaga integritas proses, PSSI Bangka Barat membuka jalur komunikasi resmi melalui Abu Hanipah dan Akheri. Orang tua, pelatih, dan masyarakat didorong untuk ikut mengawasi.

“Kami ingin seleksi ini diawasi bersama. Tanpa kepercayaan publik, sepakbola daerah tidak akan maju,” ujar Allani.

Ia menegaskan bahwa kejujuran adalah modal utama organisasi.

“Program sehebat apa pun akan runtuh kalau tidak dipercaya. Karena itu seleksi ini harus bersih dan bisa dipertanggungjawabkan.”

Dalam perspektif kebijakan olahraga, Hylton dan Bramham (2008) menekankan bahwa legitimasi organisasi olahraga sangat ditentukan oleh transparansi dan partisipasi publik. Upaya membuka akses komunikasi ini memperkuat citra PSSI Bangka Barat sebagai organisasi yang berorientasi akuntabilitas.

Namun di balik kebijakan dan teori, kisah sesungguhnya berlangsung di atas lapangan.

Pagi itu, seorang remaja dari Kecamatan Kelapa datang lebih awal. Sepatunya mulai aus di bagian depan. Ia tidak membawa rekomendasi klub besar, tidak pula datang dengan atribut mahal. Ia hanya membawa harapan.

Ia berdiri di antara puluhan peserta lain, anak-anak dari desa yang mungkin selama ini bermain di lapangan tanah atau pinggir pantai. Di Gorip, mereka berdiri sejajar. Tidak ada tribun megah, tidak ada gemerlap sponsor. Hanya peluit, rumput dan kesempatan.

Allani memandang situasi itu sebagai makna terdalam seleksi terbuka.

“Sepakbola yang sehat harus adil sejak awal. Kalau dari seleksi saja sudah timpang, jangan berharap hasilnya jujur,” katanya.

Ia juga menempatkan desa sebagai pusat ekosistem sepakbola daerah.

“Desa adalah rahim talenta. Kalau semua bakat ditarik ke pusat sejak awal, desa akan kosong. Tugas kita bukan menguras desa, tapi merawatnya.”

Langkah seleksi terbuka berbasis zonasi ini menjadi wajah baru PSSI Bangka Barat bahwa organisasi yang berusaha menanam akar sebelum mengejar buah.

Di tengah dinamika olahraga yang sering diasosiasikan dengan eksklusivitas dan jaringan tertutup, Bangka Barat memilih membangun citra melalui tindakan mendekat ke desa, membuka akses dan mengundang pengawasan publik.

“Datanglah. Jangan minder karena berasal dari desa atau tidak punya klub besar. Sepakbola Bangka Barat harus bergema bukan karena nama besar, tapi karena kerja keras dan kejujuran,” pungkas Allani.

Jika kelak dari Lapangan Gorip lahir satu nama yang mengharumkan Bangka Barat, sejarah mungkin akan mencatatnya sebagai buah dari sistem yang berani adil sejak awal.

Namun bahkan sebelum nama itu lahir, PSSI Bangka Barat telah lebih dulu membangun sesuatu yang tak kalah penting yaitu citra sebagai organisasi yang menegakkan keadilan bakat, menguatkan akar desa dan merawat masa depan sepakbola daerah dengan fondasi transparansi dan keberlanjutan.
Baca Juga
أحدث أقدم
);
f t P
GULIR UNTUK MELANJUTAKAN MELIHAT BERITA
SUMSELPOS
BERITA SUMATRA BAGIAN SELATAN