BREAKING NEWS
Isu Sertifikasi Damkar Berbayar Dipastikan Tidak Benar | Ratusan Taruna Akpol Turun ke Aceh Tamiang, Polri Dorong Akselerasi Pemulihan Pascabencana | Waketum LAHAM RI Akram Pasau dan Ketua DPW Gorontalo Janes Komenaung Minta DPD Tidak Mendukung Perusahaan | Patroli Pantera Presisi Polres Bitung Hadir di Tengah Masyarakat, Jaga Kota Tetap Aman dan Nyaman | Polsek Singkil Klarifikasi Pengaduan Warga yang Viral di Media Sosial
🕌 JADWAL SHOLAT HARI INI: Subuh 04:30 | Dzuhur 12:00 | Ashar 15:15 | Maghrib 18:00 | Isya 19:15 WIB || ☀️ CUACA HARI INI: Cerah Berawan, Suhu 28°C || 💰 HARGA EMAS HARI INI: Rp 1.250.000 per gram || 🕌 JADWAL SHOLAT BESOK: Subuh 04:31 | Dzuhur 12:00 | Ashar 15:15 | Maghrib 18:00 | Isya 19:16 WIB || 🌧️ CUACA BESOK: Hujan Ringan, Suhu 26°C || 💰 HARGA EMAS BESOK (PERKIRAAN): Rp 1.245.000 per gram
🏠 Berita>Update

Perang Ketupat Tempilang Tak Lagi Sekadar Ritual, Tapi Potensi Baru Ekonomi Warga


Penulis: Joy, Satrio dan Belva Al Akhab 

Tempilang, Bangka Barat ,Sumsel Pos — Pantai Pasir Kuning, Desa Air Lintang, Minggu (8/2/2026), menjadi ruang temu ribuan manusia dengan ingatan kolektifnya. Di bawah langit cerah dan laut yang tenang, ketupat beterbangan di udara, disambut sorak tawa dan wajah-wajah yang larut dalam kegembiraan. Namun Perang Ketupat Tempilang bukan sekadar keramaian tahunan. Ia adalah peristiwa kebudayaan, tempat nilai, sejarah, spiritualitas dan identitas masyarakat pesisir Bangka Barat dirawat dan dihidupkan kembali.


Tradisi yang telah diwariskan sejak abad ke-19 ini berakar dari kesadaran kolektif masyarakat Tempilang akan pentingnya keseimbangan hidup. Perang Ketupat dipercaya sebagai ritual tolak bala, pembersihan kampung, sekaligus ungkapan syukur menjelang bulan suci Ramadan. Di dalamnya, manusia, alam dan kekuatan spiritual ditempatkan dalam satu tarikan napas yang utuh.

Kehadiran negara dalam ritual ini ditandai dengan hadirnya Bupati Bangka Barat Markus, Wakil Bupati H. Yus Derhaman, Wakapolda Kepulauan Bangka Belitung Brigjen Pol Murry Mirranda, Kapolres Bangka Barat AKBP Pradana Aditya Nugraha, Dandim 0431 Bangka Barat, Sekda, jajaran OPD, tokoh adat, tokoh agama, serta ribuan masyarakat menunjukkan bahwa Perang Ketupat tidak lagi dipandang sebagai tradisi pinggiran. Ia telah menjadi fondasi identitas kultural Bangka Barat.

Bupati Bangka Barat Markus menegaskan bahwa Perang Ketupat adalah lebih dari sekadar perayaan adat.

“Tradisi ini mengandung makna yang sangat dalam. Ia adalah simbol rasa syukur, ritual tolak bala, sekaligus ruang silaturahmi yang menyatukan masyarakat tanpa sekat,” ujar Markus.

Pengakuan nasional terhadap Perang Ketupat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) menjadi penanda bahwa nilai-nilai lokal Tempilang memiliki makna universal. Namun, pengakuan itu juga membawa tanggung jawab menjaga agar kebudayaan tidak berhenti sebagai simbol, tetapi terus hidup dalam praktik sosial masyarakat.

Secara historis, Perang Ketupat pertama kali dilaksanakan pada era 1800-an di kawasan Benteng Kota Tempilang. Ia lahir dari masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada laut, musim, dan keteraturan alam. Tradisi ini tumbuh sebagai mekanisme sosial untuk merawat harmoni antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan.

Wakil Bupati Bangka Barat H. Yus Derhaman memandang Perang Ketupat sebagai aset kebudayaan strategis dalam pembangunan daerah.

“Perang Ketupat adalah jati diri masyarakat Tempilang. Tokoh adat seperti Pak Keman adalah penjaga nilai dan ruh tradisi ini,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, kata Yus Derhaman, berkomitmen mendukung pengembangan kawasan budaya Tempilang melalui mekanisme desa dan penguatan administrasi, agar kebudayaan menjadi bagian dari arah pembangunan, bukan sekadar pelengkap.

Namun pembangunan kebudayaan menuntut kehati-hatian. Tradisi yang hidup tidak boleh direduksi menjadi komoditas semata. Ia harus tumbuh dari nilai, bukan dari sekadar kemeriahan.

Rangkaian Perang Ketupat diawali dengan ritual adat seperti Penimbongan, Ngancak Penimbong, Taber Kampung, tarian Serimbang dan Kedidi, serta pertunjukan silat Seramo adat dari perguruan Mawar Putih. Doa arwah dan doa selamat menjadi penanda kuat bahwa tradisi ini berpijak pada spiritualitas yang dalam.

Ketika perang dimulai, puluhan pria berpakaian hitam berkumpul di arena. Ketupat dilemparkan bukan dengan amarah, melainkan dengan tawa. Konflik dilepaskan tanpa dendam. Inilah pelajaran sosial yang diwariskan tradisi menyelesaikan ketegangan tanpa merusak ikatan kemanusiaan.

Di balik riuh arena, tersimpan filosofi yang dijaga para pemangku adat. Keman, Dukun Laut Tempilang dan penerus adat Perang Ketupat, menyebut tradisi ini sebagai ruang pendidikan nilai lintas generasi.

“Ketupat adalah simbol kehidupan. K itu kehidupan, E etika, T tauhid, U umat, P perilaku, A agamis, dan T tradisi,” jelasnya.

Nilai-nilai ini menegaskan bahwa Perang Ketupat adalah etika hidup yang diajarkan melalui ritual. Ia membentuk adab, tanggung jawab sosial dan kesadaran spiritual nilai yang kerap tergerus oleh modernitas yang serba cepat.

Menurut Keman, tantangan pelestarian budaya sering datang dari kesalahpahaman tafsir keagamaan. Namun dialog dengan otoritas agama hingga Kementerian Agama telah menegaskan bahwa Perang Ketupat justru mengandung nilai-nilai Islam yang kuat dan tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Kini, Perang Ketupat juga menjadi agenda wisata budaya Bangka Barat. Ribuan pengunjung hadir setiap tahun, memberi dampak ekonomi bagi masyarakat lokal. Namun di sinilah ujian kebudayaan muncul apakah tradisi akan tetap menjadi subjek hidup atau berubah menjadi tontonan musiman.

“Ini bukan soal hiburan, tapi soal jati diri,” kata Keman.

Pelestarian sejati menuntut keberpihakan pada nilai, pada masyarakat adat, dan pada ruang hidup pesisir yang menjadi fondasi kebudayaan itu sendiri.

Perang Ketupat Tempilang adalah cermin bagaimana kebudayaan bekerja mengikat manusia dengan sejarahnya, menautkan ritual dengan etika dan menjembatani masa lalu dengan masa depan. Di tengah arus modernitas, tradisi ini berdiri sebagai penanda bahwa pembangunan sejati tidak hanya diukur dari beton dan angka, tetapi dari kemampuan menjaga identitas, nilai dan ingatan kolektif.

Dari pesisir Tempilang, Bangka Barat belajar satu hal penting bahwa kebudayaan bukan penghambat kemajuan, melainkan fondasi paling kokoh untuk membangunnya.
Baca Juga
أحدث أقدم
);
f t P
GULIR UNTUK MELANJUTAKAN MELIHAT BERITA
SUMSELPOS
BERITA SUMATRA BAGIAN SELATAN