Mentok, Bangka Barat , Sumael Pos— Di saat pendidikan karakter kerap berhenti pada slogan, 18 Pramuka Penegak SMA Negeri 1 Simpang Teritip membuktikan bahwa pembentukan watak masih bisa dijalankan secara nyata. Melalui Pengater 2026 (Pengembaraan Prasmanter), mereka menempuh perjalanan tiga hari dua malam dari Desa Pelangas, Kecamatan Simpang Teritip, menuju Pantai Tanjung Kalian, Mentok, dengan berjalan kaki melintasi alam dan ruang sejarah Bangka Barat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari metode resmi pendidikan Pramuka yang menjadikan alam sebagai ruang belajar utama. Prasmanter bukan perjalanan wisata, melainkan sarana pengujian langsung nilai kemandirian, kepemimpinan, disiplin dan kerja sama nilai inti yang menjadi fondasi Gerakan Pramuka.
“Nama kegiatannya Pengater 2026, pengembaraan Prasmanter. Pesertanya 18 orang. Rutenya dari SMA Negeri 1 Simpang Teritip ke Pantai Tanjung Kalian, Mentok. Perjalanannya tiga hari dua malam,” ujar salah satu peserta, Minggu (01/02/2026).
Sepanjang perjalanan, para peserta mengelola logistik sendiri, menentukan ritme langkah, menjaga solidaritas kelompok, serta menyelesaikan persoalan internal tanpa ketergantungan pada fasilitas instan. Kelelahan fisik dan keterbatasan menjadi bagian dari proses pembelajaran.
Model pendidikan ini sejalan dengan prinsip experiential learning, di mana karakter tidak dibentuk melalui teori semata, melainkan melalui pengalaman langsung yang menuntut tanggung jawab dan ketahanan mental.
Di tengah pendidikan modern yang semakin bergantung pada ruang digital, pengembaraan Prasmanter tampil sebagai antitesis pendidikan yang mengandalkan pengalaman, kedisiplinan dan kesadaran diri.
“Kami ikut Pramuka untuk menciptakan rasa mandiri, menjalin kerja sama dalam organisasi dan mengembangkan potensi diri,” kata salah satu peserta.
Rute pengembaraan membawa para Pramuka melintasi kawasan pesisir dan permukiman yang lama hidup berdampingan dengan eksploitasi sumber daya alam. Bangka Belitung dikenal sebagai wilayah dengan sejarah panjang pertambangan timah, yang meninggalkan jejak ekologis berupa kolong bekas tambang, degradasi tanah, dan tekanan terhadap ekosistem pesisir.
Meski tidak dirancang sebagai kajian lingkungan formal, para peserta menyaksikan langsung lanskap tersebut. Alam menjadi ruang refleksi, bukan sekadar latar perjalanan.
Pendekatan ini selaras dengan konsep ecological literacy, yang menekankan pentingnya pengalaman langsung agar generasi muda memahami hubungan manusia dan lingkungan secara utuh, bukan sebagai konsep abstrak.
Tanjung Kalian: Titik Akhir yang Bermakna
Pantai Tanjung Kalian dipilih sebagai tujuan akhir bukan tanpa pertimbangan. Kawasan ini merupakan simpul sejarah maritim Bangka Barat. Mercusuar Tanjung Kalian, peninggalan era kolonial, menjadi penanda navigasi kapal-kapal pengangkut timah sekaligus simbol peran Mentok sebagai kota pelabuhan.
Bagi para Pramuka, mercusuar tersebut merepresentasikan makna arah dan keteguhan. Pendidikan karakter, seperti pelayaran, membutuhkan kompas agar tidak kehilangan tujuan.
Menghadirkan ruang sejarah dalam pengembaraan berarti menautkan pendidikan karakter dengan kesadaran sejarah dan tanggung jawab generasi.
Pembina Pramuka SMA Negeri 1 Simpang Teritip menegaskan bahwa pengembaraan Prasmanter merupakan metode pendidikan yang tidak tergantikan.
“Anak-anak ini belajar bukan dari teori, tapi dari situasi nyata. Mereka belajar mengatur diri, bekerja sama dan bertanggung jawab. Pendidikan karakter seperti ini tidak bisa dipercepat dan tidak bisa digantikan dengan pembelajaran di ruang kelas,” ujarnya.
Menurutnya, pengembaraan memberi ruang bagi remaja untuk mengalami kegagalan, belajar dan bangkit proses penting yang semakin jarang hadir dalam sistem pendidikan yang berorientasi pada hasil instan.
Meski diakui secara normatif, pendidikan berbasis alam seperti Pramuka masih belum menjadi arus utama kebijakan pendidikan nasional. Banyak kegiatan berjalan dengan dukungan terbatas, bergantung pada komitmen pembina dan swadaya peserta.
Padahal, laporan UNESCO tentang Education for Sustainable Development menegaskan bahwa krisis lingkungan global hanya dapat dihadapi jika kesadaran ekologis ditanamkan sejak usia sekolah.
Pengembaraan Pramuka seperti Pengater 2026 menunjukkan bahwa pendidikan karakter dan lingkungan masih hidup, meski kerap berjalan di pinggir prioritas kebijakan.
Hanya 18 peserta. Namun pengembaraan ini menyampaikan pesan yang tegas bahwa pendidikan karakter tidak lahir dari ruang nyaman, melainkan dari proses yang menuntut disiplin, kebersamaan dan keberanian menghadapi keterbatasan.
Di Pantai Tanjung Kalian, ketika perjalanan berakhir dan laut terbentang luas, para Pramuka itu telah menempuh lebih dari sekadar jarak geografis. Mereka membawa pulang nilai dasar Gerakan Pramuka mandiri, bertanggung jawab dan berkarakter kuat.
Pengembaraan selesai. Tetapi fungsi Pramuka sebagai benteng pembentukan karakter generasi muda justru semakin relevan.
Sumber Literatur:
Wawancara peserta Pramuka SMA Negeri 1 Simpang Teritip, kegiatan Pengater 2026
Wawancara Pembina Pramuka SMA Negeri 1 Simpang Teritip
Undang-Undang RI No. 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka
Kolb, D.A. (1984). Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development
UNESCO (2017). Education for Sustainable Development Goals
Kajian Kemendikbudristek tentang Pendidikan Karakter dan Profil Pelajar Pancasila
Literatur sejarah maritim Bangka Belitung dan Mentok.

