PANGKALPINANG — Gelombang kritik terhadap kondisi Lapas Narkotika Kelas IIA Pangkalpinang akhirnya memuncak dalam sebuah audiensi terbuka antara insan pers dan jajaran Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (21/5/2026).
Meski rencana aksi unjuk rasa yang sebelumnya disebut akan melibatkan ratusan massa dibatalkan, suasana audiensi tetap berlangsung panas dan penuh sorotan tajam terhadap dugaan lemahnya pengawasan di lingkungan pemasyarakatan, khususnya di Lapas Narkotika Pangkalpinang.
Sekitar 15 peserta dari unsur Kantor Berita Online (KBO) Babel dan Pro Jurnalis Media Siber (PJS) Bangka Belitung hadir langsung menyampaikan kritik di hadapan Kepala Kanwil Ditjenpas Babel, Ade Agustina.
Keputusan membatalkan aksi demonstrasi disebut bukan karena surutnya kritik, melainkan bentuk tanggung jawab moral demi menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.
Penanggung jawab aksi, Rikky Fermana, menegaskan bahwa berbagai persoalan yang terus mencuat dari dalam Lapas Narkotika Pangkalpinang tidak boleh lagi dianggap sebagai isu biasa.
“Demi terciptanya kondisi kamtibmas yang kondusif, akhirnya kami memilih audiensi. Tetapi substansi yang kami sampaikan tetap sama, yakni kritik keras terhadap kondisi Lapas di Bangka Belitung, khususnya Lapas Narkotika Pangkalpinang,” ujar Rikky.
Ia menilai rentetan pemberitaan mengenai dugaan penyalahgunaan telepon genggam hingga indikasi peredaran narkoba di dalam lapas seharusnya menjadi alarm serius bagi jajaran pemasyarakatan.
Menurutnya, publik justru lebih sering disuguhi pemberitaan seremonial dan pencitraan dibanding langkah nyata pembenahan.
“Pemberitaan yang masif terkait Lapas Narkotika seolah tidak membuat lembaga ini berbenah. Yang muncul justru kesan semuanya baik-baik saja, bersih dari penyalahgunaan HP maupun dugaan penyalahgunaan narkoba. Padahal sorotan publik terus bermunculan,” tegasnya.
Sorotan yang lebih tajam juga datang dari Sekretaris PJS Bangka Belitung, Muhamad Zen. Di hadapan Kakanwil dan sejumlah wartawan, Zen menilai fakta bahwa insan pers hampir turun ke jalan menjadi indikator bahwa persoalan di dalam lapas sudah berada pada level yang mengkhawatirkan.
“Kalau wartawan saja sudah sampai berencana melakukan aksi unjuk rasa, berarti keadaan ini memang sangat serius. Biasanya yang turun aksi mahasiswa, LSM, atau ormas. Jarang insan pers mengambil langkah seperti ini. Ini bukti ada persoalan besar yang membutuhkan pembenahan menyeluruh,” kata Zen.
Zen juga meminta adanya evaluasi total terhadap pola pengawasan di dalam lapas. Ia secara terbuka mendorong dilakukan rotasi terhadap pimpinan maupun petugas yang sudah terlalu lama bertugas di lingkungan Lapas Narkotika Pangkalpinang.
Menurutnya, rotasi penting dilakukan untuk mencegah munculnya dugaan permainan maupun relasi yang berpotensi melemahkan pengawasan internal.
“Kami meminta dilakukan evaluasi total, termasuk rotasi pimpinan dan petugas yang terlalu lama bertugas di sana. Ini penting untuk mencegah dugaan permainan di internal,” ujarnya.
Meski penuh kritik, PJS dan KBO Babel tetap menegaskan komitmennya mendukung langkah pembenahan yang dilakukan Ditjenpas Babel. Mereka menyatakan insan pers siap menjadi mitra kontrol sosial demi menjaga marwah lembaga pemasyarakatan tetap berjalan sesuai aturan.
Menanggapi berbagai kritik tersebut, Kepala Kanwil Ditjenpas Babel, Ade Agustina, memilih membuka ruang dialog secara terbuka. Bahkan dalam audiensi itu, ia tampak mencatat langsung berbagai poin masukan yang disampaikan peserta.
Dengan nada tegas, Ade memastikan pihaknya tidak akan memberikan toleransi terhadap oknum petugas maupun pimpinan lapas yang terbukti melakukan pelanggaran.
“Silakan media menyampaikan kritik dan masukan. Itu akan menjadi bahan evaluasi bagi kami untuk melakukan pembenahan,” ujarnya.
Ade bahkan melontarkan pernyataan keras yang langsung disambut tepuk tangan peserta audiensi.
“Kalau memang benar ada pelanggaran yang dilakukan oleh oknum pimpinan maupun petugas Lapas, saya pastikan akan kami copot,” tegasnya.
Pernyataan itu menjadi sorotan utama dalam audiensi yang berlangsung cukup dinamis tersebut.
Selain dihadiri insan pers dan jajaran Kanwil Ditjenpas Babel, kegiatan itu juga mendapat pengawalan dari Polresta Pangkalpinang melalui Kasat Intelkam AKP Sirait bersama sejumlah personel.
Dalam kesempatan tersebut, AKP Sirait mengapresiasi langkah media yang memilih jalur dialog dibanding turun ke jalan dengan mengerahkan massa.
Menurutnya, penyampaian kritik secara terbuka dan elegan melalui audiensi jauh lebih konstruktif dalam menjaga stabilitas keamanan daerah.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan media yang telah mempertimbangkan untuk tidak melakukan aksi dengan melibatkan massa dan ikut mendukung terciptanya kondisi kamtibmas yang kondusif. Kritik dan saran bisa disampaikan secara elegan tanpa harus melalui unjuk rasa,” ujar Sirait.
Ia juga menegaskan komitmen kepolisian untuk mendukung berbagai langkah pembenahan yang dilakukan Ditjenpas Babel, terutama dalam pengawasan lingkungan pemasyarakatan.
Audiensi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai forum seremonial semata, melainkan menjadi titik awal lahirnya evaluasi nyata terhadap sistem pengawasan dan pembinaan di seluruh lapas di Bangka Belitung.
Sorotan terhadap Lapas Narkotika Pangkalpinang kini bukan lagi sekadar isu internal lembaga, tetapi telah menjadi perhatian publik yang menuntut jawaban dan tindakan konkret dari pihak terkait. (KBO Babel)
Tags:
Berita
