BREAKING NEWS
Isu Sertifikasi Damkar Berbayar Dipastikan Tidak Benar | Ratusan Taruna Akpol Turun ke Aceh Tamiang, Polri Dorong Akselerasi Pemulihan Pascabencana | Waketum LAHAM RI Akram Pasau dan Ketua DPW Gorontalo Janes Komenaung Minta DPD Tidak Mendukung Perusahaan | Patroli Pantera Presisi Polres Bitung Hadir di Tengah Masyarakat, Jaga Kota Tetap Aman dan Nyaman | Polsek Singkil Klarifikasi Pengaduan Warga yang Viral di Media Sosial
🕌 JADWAL SHOLAT HARI INI: Subuh 04:30 | Dzuhur 12:00 | Ashar 15:15 | Maghrib 18:00 | Isya 19:15 WIB || ☀️ CUACA HARI INI: Cerah Berawan, Suhu 28°C || 💰 HARGA EMAS HARI INI: Rp 1.250.000 per gram || 🕌 JADWAL SHOLAT BESOK: Subuh 04:31 | Dzuhur 12:00 | Ashar 15:15 | Maghrib 18:00 | Isya 19:16 WIB || 🌧️ CUACA BESOK: Hujan Ringan, Suhu 26°C || 💰 HARGA EMAS BESOK (PERKIRAAN): Rp 1.245.000 per gram
🏠 Berita>Update

Markus, S.H: Safari Ramadhan di Masjid Baitussalam Jadi Ikon Santunan Sosial dan Simbol Toleransi Bangka Barat

Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio

Puput, Bangka Barat, Sumsel Pos — Pemerintah Kabupaten Bangka Barat menegaskan komitmen pencitraan santunan sosial dan toleransi beragama melalui Safari Ramadhan 1447 H/2026 di Desa Puput, Kecamatan Parit Tiga, Jumat (28/02/2026). Bupati Bangka Barat Markus, S.H menyatakan kegiatan itu sebagai strategi sosial untuk memperkuat solidaritas masyarakat multikultural sekaligus menunjukkan wajah humanis pemerintah daerah.

“Safari Ramadhan ini bukan sekadar kunjungan. Ini cara kami mendengar napas rakyat dan memastikan pemerintah hadir bukan hanya dalam program, tetapi dalam rasa,” ujar Markus di hadapan jamaah Masjid Baitussalam.

Ia menegaskan bahwa Desa Puput, yang pernah dikenal sebagai desa kerukunan beragama, harus menjaga identitas tersebut sebagai simbol Bangka Barat.
“Kalau kita kehilangan toleransi, yang runtuh bukan hanya rumah ibadah, tapi rumah kemanusiaan kita sendiri.” jelasnya. 

Safari Ramadhan di Masjid Baitussalam diisi penyaluran bantuan lintas sektor dari Pemkab Bangka Barat, BAZNAS Bangka Barat, PT Timah dan Bank Sumsel Babel.

BAZNAS Bangka Barat menyalurkan bantuan uang tunai kepada 20 warga. Bagian Kesra Bangka Barat memberikan kipas angin, sajadah, vacuum cleaner, Al-Qur’an, dan perlengkapan masjid. Bank Sumsel Babel menyerahkan 10 paket sembako, sementara PT Timah menyalurkan 30 paket sembako bagi masyarakat Desa Puput.

Ketua BAZNAS Bangka Barat Lili Suhendra NATO menyebut zakat sebagai energi kemanusiaan.
“Zakat bukan sekadar angka. Ia adalah doa yang berubah menjadi beras dan harapan. Di Desa Puput, zakat menjahit iman dan toleransi menjadi satu kain persaudaraan.” jelas lili. 

Wakil Ketua Pengumpulan H. Hasyim Baharudin menambahkan kolaborasi pemerintah dan perusahaan memperluas manfaat sosial.
“Kolaborasi ini membuktikan santunan sosial bisa menjadi kekuatan persatuan umat.” tutur Hasyim.

Wakil Ketua Keuangan H. Zumrowi Achyar menegaskan transparansi pengelolaan dana umat.
“Setiap rupiah zakat adalah amanah masyarakat.” ungkap Zumrowi. 

Wakil Ketua Administrasi H. Nurzali Hamid menyebut bantuan sebagai perekat sosial.
“Bantuan ini tidak melihat agama atau suku. Yang dilihat adalah manusia.” jelas Nurzali.

Anggota BAZNAS Wasis Utama Edi mengaku melihat makna toleransi di wajah warga.
“Saya melihat senyum penerima bantuan seperti pelukan lintas iman. Di Desa Puput, santunan menjadi bahasa persaudaraan.” tuturnya dengan rasa haru. 

Di sudut Masjid Baitussalam, seorang ibu menggenggam paket sembako seperti memeluk masa depan. Ia menunduk, lalu berkata pelan,
“Bantuan ini bukan hanya beras untuk sahur kami. Ini tanda bahwa kami tidak sendiri.”

Di halaman masjid, anak-anak bermain di antara tenda Pasar Ramadhan. Kolak pisang berdampingan dengan kue keranjang. Aroma santan bercampur gula merah dan di antara aroma itu, toleransi terasa nyata.

Seorang pedagang kecil berkata,
“Di Puput kami berdagang tanpa melihat agama. Kalau satu susah, semua membantu.”

Camat Parit Tiga menyebut bantuan tenda pasar Ramadhan memperkuat ekonomi sekaligus interaksi sosial.
“Pasar Ramadhan kini belasan lapak. Etnis Tionghoa dan umat Islam berdagang bersama. Ini bukan hanya ekonomi, tapi toleransi yang hidup.”

Di desa itu, santunan sosial bukan sekadar distribusi barang. Ia menjadi distribusi rasa aman.

Realitas Toleransi: Dari Masjid ke Pasar Desa Puput Kecamatan Parit Tiga 
Desa Puput dikenal sebagai desa dengan keberagaman etnis Melayu, Jawa, dan Tionghoa. Dalam keseharian, toleransi hidup dalam hal-hal sederhana berbagi makanan, saling menjaga toko tetangga atau mengantar tetangga sakit tanpa bertanya agama.

Dalam kajian sosial Indonesia, praktik santunan sosial lintas komunitas terbukti memperkuat solidaritas masyarakat. Laporan indeks kerukunan umat beragama oleh Kementerian Agama RI menunjukkan kegiatan sosial lintas iman meningkatkan tingkat toleransi masyarakat.

Penelitian sosial-budaya Universitas Gadjah Mada juga mencatat ekonomi kolektif seperti pasar Ramadhan memperkuat interaksi lintas identitas dan mengurangi konflik sosial.

Temuan-temuan itu terasa nyata di Puput. Bantuan sosial menjadi diplomasi kemanusiaan. Pasar menjadi ruang dialog. Masjid menjadi panggung persaudaraan.

Safari Ramadhan di Puput menjadi panggung pencitraan humanis Pemkab Bangka Barat. Kehadiran Bupati, Wakil Bupati, Sekda dan pejabat daerah menunjukkan pemerintah hadir langsung di tengah warga.

“Kehadiran ini membuktikan desa tidak berjalan sendiri,” kata Kepala Desa Puput.

Di bawah lampu Masjid Baitussalam, citra pemerintah bukan lagi papan nama kantor. Ia menjadi tangan yang memberi sembako, telinga yang mendengar keluh warga dan doa yang dipanjatkan bersama.

Safari Ramadhan ditutup dengan doa bersama. Tidak ada tepuk tangan panjang, hanya keheningan hangat.

Di luar masjid, bulan sabit menggantung seperti saksi bahwa santunan sosial adalah politik paling lembut yaitu politik kasih sayang.

Di Desa Puput malam itu, Ramadhan tidak hanya dibacakan.
Ia dibagikan dalam sembako.
Ia dihamparkan dalam sajadah.
Ia dihidupkan dalam pasar.

Pemkab Bangka Barat menegaskan satu pesan bahwa toleransi bukan slogan, tetapi kerja harian yang dirawat dengan santunan, keadilan dan cinta pada sesama.

Di Masjid Baitussalam, di antara doa dan paket sembako, Puput mengajarkan satu hal sederhana bahwa manusia bisa berbeda iman, tetapi tetap pulang dalam pelukan kemanusiaan yang sama.

Baca Juga
Lebih baru Lebih lama
);
f t P
GULIR UNTUK MELANJUTAKAN MELIHAT BERITA
SUMSELPOS
BERITA SUMATRA BAGIAN SELATAN