BREAKING NEWS
Isu Sertifikasi Damkar Berbayar Dipastikan Tidak Benar | Ratusan Taruna Akpol Turun ke Aceh Tamiang, Polri Dorong Akselerasi Pemulihan Pascabencana | Waketum LAHAM RI Akram Pasau dan Ketua DPW Gorontalo Janes Komenaung Minta DPD Tidak Mendukung Perusahaan | Patroli Pantera Presisi Polres Bitung Hadir di Tengah Masyarakat, Jaga Kota Tetap Aman dan Nyaman | Polsek Singkil Klarifikasi Pengaduan Warga yang Viral di Media Sosial

Dari Tempilang, Wakil Bupati Bangka Barat Canangkan Olahraga Rakyat sebagai Pilar Prestasi

Tempilang, Bangka Barat ,Sumsel Pos — Ketika banyak pejabat memilih podium, Wakil Bupati Bangka Barat H. Yus Derahman memilih pinggir lapangan. Sabtu sore (31/1/2026), di tengah debu Lapangan Persit Air Lintang, Tempilang, ia hadir menyaksikan langsung babak semi final Turnamen Bola Voli Antar Desa “Ruah Cup” Tempilang 2026. Kehadirannya menandai satu hal penting bahwa negara tidak sedang berpidato, melainkan hadir.

Di banyak tempat, olahraga telah direduksi menjadi angka, industri dan seremoni formal. Namun di Tempilang, olahraga kembali ke bentuk paling bijaksana dan paling jujurnya adalah peluh, sorak dan keyakinan kolektif bahwa desa bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek yang hidup. Sejak peluit pertama ditiup, yang bertarung bukan hanya tim voli, tetapi masa depan olahraga rakyat Bangka Barat.

Lapangan Persit Air Lintang tidak menjanjikan kemewahan. Tanahnya berdebu, garisnya sederhana, tribun hanyalah tubuh-tubuh warga yang berdiri rapat. Tetapi justru di ruang inilah H. Yus Derahman mempraktikkan kebijakan yang jarang terlihat yaitu keberpihakan pada akar. Bola voli melayang di udara seperti menolak jatuh, seolah menegaskan bahwa semangat desa belum pernah benar-benar padam tetapi ia hanya menunggu untuk disapa.

Sorak penonton yang mengitari lapangan bukan sekadar dukungan tim, melainkan suara desa-desa yang selama ini hanya hadir sebagai catatan kaki dalam narasi besar olahraga nasional. Di Tempilang, olahraga tidak datang dari pusat ke pinggiran. Ia tumbuh dari bawah. Kehadiran Wakil Bupati di ruang ini adalah pesan politik yang terang: pembangunan Bangka Barat tidak boleh menjauh dari warganya.

Sejarawan olahraga Allen Guttmann menulis bahwa olahraga modern berakar dari ritual kolektif peristiwa sosial tempat nilai masyarakat dipertontonkan. Ruah Cup Tempilang 2026 menjelma tepat seperti itu. Ia bukan sekadar turnamen, melainkan ritual politik-kultural, tempat desa-desa Bangka Belitung menegosiasikan harga diri, keadilan, dan solidaritas. Di tengah ritual itu, H. Yus Derahman berdiri sebagai saksi sekaligus penopang.

Babak semi final disaksikan langsung oleh Wakil Bupati, didampingi Koordinator Wasit Bola Voli Kecamatan Tempilang, Angsori. Kehadiran mereka menegaskan bahwa negara, dalam bentuk paling dekatnya, turun ke lapangan bukan untuk mengatur skor, tetapi memastikan keadilan berjalan.

Di sektor putri, Biaso Bai Desa Berbura harus mengakui keunggulan Garuda Desa Kemuja dengan skor 1–3. Set ketiga yang berlangsung ketat menjadi panggung ketahanan mental. Di titik inilah olahraga memperlihatkan maknanya yang paling substansial bahwa kemenangan bukan semata soal teknik, melainkan kemampuan bertahan di bawah tekanan.

Nilai ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan, yang menempatkan olahraga sebagai instrumen pembinaan karakter bangsa. Apa yang tertulis dalam regulasi, di Tempilang diwujudkan secara nyata dan H. Yus Derahman melihat langsung bagaimana pasal-pasal itu hidup di lapangan desa.

Laga lainnya antara Keratap Kerutop Desa Keretak dan Beleno Desa Penyampak menjadi demonstrasi kekuatan kolektif. Kemenangan telak 3–0 bukan lahir dari individualisme, melainkan koordinasi dan disiplin. Sosiolog olahraga Jay Coakley menyebut olahraga komunitas sebagai ruang belajar sosial. Dalam konteks Bangka Barat, ruang belajar itu sekaligus menjadi fondasi politik pembangunan manusia.

Pada kategori putra, Trisula Kelurahan Kelapa menyingkirkan Portela Desa Teluk Limau dengan skor 3–0. Sementara kejutan terbesar terjadi ketika FMJ Kelurahan Kampung Keramat, Pangkalpinang, menumbangkan VSB Desa Tempilang, tim favorit juara. Skor 3–1 adalah pernyataan tegas bahwa Ruah Cup adalah arena meritokrasi. Nama besar tidak menjamin kemenangan sebuah pesan politik tentang keadilan kesempatan yang sejalan dengan visi kepemimpinan H. Yus Derahman.

Ketua Panitia Pelaksana Sutrisman (Kang Lik) menyebut turnamen telah memasuki fase akhir.

“Grand Final akan digelar Jumat, 6 Februari 2026. Ini puncak dari proses panjang yang melibatkan banyak desa,” ujarnya.

Pernyataan ini bersinggungan langsung dengan Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) Kemenpora RI, yang menempatkan olahraga masyarakat sebagai fondasi prestasi nasional. Bagi Wakil Bupati Bangka Barat, DBON bukan sekadar dokumen pusat, melainkan arah kebijakan yang harus diterjemahkan di lapangan secara harfiah.

H. Yus Derahman menegaskan bahwa Ruah Cup adalah contoh konkret pembangunan olahraga berbasis komunitas.

“Olahraga desa mampu menjadi ruang pembinaan karakter, kebersamaan dan prestasi. Pemerintah daerah harus hadir untuk memastikan ruang-ruang seperti ini terus hidup dan berkembang,” ujarnya.

Pernyataan ini menempatkan olahraga sebagai instrumen politik sosial sebagai ruang di mana nilai kejujuran, keberanian dan solidaritas diuji secara terbuka di mana negara hadir bukan sebagai penonton jauh, melainkan mitra warga.

Jadwal Akhir: Puncak Perayaan Rakyat
Kamis, 5 Februari 2026
Perebutan Juara 3 dan 4

Putri: Beleno Desa Penyampak vs Biaso Bai Desa Berbura

Putra: FMJ Kel. Kampung Keramat vs Portela Desa Teluk Limau

Jumat, 6 Februari 2026
Grand Final

Putri: Keratap Kerutop Desa Keretak vs Garuda Desa Kemuja

Putra: VSB Desa Tempilang vs Trisula Kelurahan Kelapa

Pertandingan dipimpin Wasit I Gunawan, Wasit II Yusmanto, dengan Scorsheet Yanto, menjaga keadilan sebagai roh utama kompetisi nilai yang juga menjadi penekanan Wakil Bupati dalam tata kelola pembangunan daerah.

Ruah Cup Tempilang 2026 telah melampaui fungsi turnamen. Ia menjadi ruang ingatan kolektif, tempat desa-desa Bangka Belitung bertemu, bertarung dan saling menghormati. Di sinilah kebijakan menemukan wajah manusianya.

Seperti dikatakan Guttmann, olahraga modern boleh tumbuh menjadi industri, tetapi akarnya selalu kembali ke komunitas. Dan di Lapangan Persit Air Lintang, Bangka Barat menyaksikan bagaimana kepemimpinan H. Yus Derahman memilih untuk kembali ke akar menjadikan olahraga desa bukan sekadar acara, tetapi agenda politik pembangunan manusia.
Baca Juga
Lebih baru Lebih lama
);
f t P
GULIR UNTUK MELANJUTAKAN MELIHAT BERITA
SUMSELPOS
BERITA SUMATRA BAGIAN SELATAN