Pangkalpinang — Arus disrupsi teknologi yang bergerak begitu cepat tidak hanya mengubah pola komunikasi dan tata kelola informasi, tetapi juga menjadi ujian besar bagi dunia pendidikan tinggi dalam menjaga transparansi dan integritas. Di tengah derasnya perkembangan digital tersebut, perguruan tinggi dituntut tidak sekadar menjadi pusat ilmu pengetahuan, melainkan juga benteng moral dalam membangun budaya keterbukaan informasi publik.
Pesan itu mengemuka dalam Kuliah Umum Keterbukaan Informasi Publik bertema *“Tantangan Perguruan Tinggi dalam Mendorong Keterbukaan Informasi Publik di Tengah Disrupsi Teknologi”* yang digelar di Ballroom Laboratorium Universitas Bangka Belitung (UBB), Kamis (7/5/2026).
Kuliah umum tersebut menghadirkan Ketua Komisi Informasi Republik Indonesia, Donny Yoesgiantoro sebagai narasumber utama. Kehadirannya mendapat perhatian besar dari civitas akademika UBB, mahasiswa, hingga pegiat keterbukaan informasi di Bangka Belitung.
Dalam paparannya, Donny menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter generasi bangsa. Menurutnya, kampus harus menjadi ruang yang bersih, terbuka, dan akuntabel agar mampu melahirkan sumber daya manusia yang berintegritas serta bebas dari perilaku koruptif.
Ia menilai, keterbukaan informasi publik bukan hanya sekadar kewajiban administratif sebagaimana diatur dalam regulasi, melainkan bagian dari budaya moral yang harus tumbuh dalam sistem pendidikan.
“Kalau kita bersih kenapa kita harus berisik,” tegas Donny di hadapan peserta kuliah umum.
Pernyataan singkat tersebut langsung mendapat perhatian peserta. Kalimat itu dinilai menjadi kritik halus terhadap budaya tertutup yang masih kerap terjadi, termasuk dalam tata kelola lembaga pendidikan maupun institusi publik lainnya.
Menurut Donny, keterbukaan informasi merupakan instrumen penting untuk membangun kepercayaan publik. Di era digital saat ini, masyarakat semakin kritis dan mudah mengakses berbagai informasi. Karena itu, institusi pendidikan tidak bisa lagi mempertahankan pola lama yang tertutup dan minim transparansi.
Ia menegaskan, kampus seharusnya menjadi contoh dalam penerapan keterbukaan informasi, baik dalam pengelolaan anggaran, proses akademik, pelayanan mahasiswa, hingga pengambilan kebijakan internal.
“Dunia pendidikan harus menjadi tolak ukur keterbukaan. Dari kampuslah lahir generasi yang nantinya memimpin bangsa ini. Kalau sejak awal mereka dibiasakan dengan budaya transparan dan bertanggung jawab, maka masa depan bangsa akan lebih baik,” ujarnya.
Donny juga menyinggung tantangan besar yang muncul akibat disrupsi teknologi. Menurutnya, kemajuan teknologi digital di satu sisi membuka akses informasi semakin luas, namun di sisi lain juga memunculkan ancaman baru berupa disinformasi, manipulasi data, hingga penyalahgunaan teknologi untuk kepentingan tertentu.
Karena itu, ia menilai perguruan tinggi harus mampu menjadi ruang literasi publik yang sehat, kritis, dan objektif. Mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran etika dan tanggung jawab sosial dalam menggunakan informasi.
Kuliah umum tersebut turut dihadiri Ketua Komisi Informasi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Ita Rosita, Wakil Ketua KI Babel, Rikky Fermana, serta para anggota komisioner KI Babel lainnya.
Kehadiran jajaran KI Babel dalam kegiatan itu menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan budaya keterbukaan informasi di lingkungan pendidikan tinggi di Bangka Belitung.
Di tengah tantangan era digital yang terus berkembang, kuliah umum tersebut tidak hanya menjadi forum akademik biasa, tetapi juga ruang refleksi bahwa transparansi dan integritas merupakan fondasi penting dalam membangun masa depan bangsa.
Pesan yang disampaikan Ketua KI RI itu menjadi pengingat bahwa kampus tidak boleh hanya sibuk mencetak lulusan berijazah, tetapi juga harus melahirkan generasi yang jujur, kritis, bertanggung jawab, dan berani menjaga nilai-nilai keterbukaan informasi publik.
Sebab, ketika budaya transparansi benar-benar hidup di dunia pendidikan, maka upaya menciptakan tata kelola bangsa yang bersih dan bebas korupsi bukan lagi sekadar slogan, melainkan sebuah fondasi yang dibangun sejak dari ruang kuliah. (KBO Babel)
Tags:
Berita
