Scroll Untuk Baca Berita Gambar Konten
News Memuat berita...

Jangan Paksa Berhutang, Demi Euphoria Lebaran, Ujungnya Mengsengsarakan Diri

Opini: Penulis Joy hamba Allah

Lebaran selalu membawa aura kebahagiaan yang tak terbantahkan. Suasana hangat, kumpul keluarga, baju baru, hingga hidangan meja penuh menjadi bagian dari euphoria yang dinanti setiap tahun. Namun, di balik gemerlap kesenangan tersebut, ada fenomena yang mulai mengkhawatirkan: tren berhutang demi memenuhi standar perayaan Lebaran yang dianggap "wajib".
 
Banyak orang merasa tertekan untuk tampil sempurna saat hari raya. Mulai dari membeli baju baru yang mahal, hadiah untuk sanak saudara, hingga menyediakan menu masakan yang melimpah dan mewah. Ketika tabungan belum cukup atau pendapatan sedang seret, jalan pintas yang sering diambil adalah berhutang. Entah itu kepada teman, kerabat, atau melalui layanan pinjaman digital yang kini semakin mudah diakses.
 
Fakta dan Data yang Mengkhawatirkan
 
Fenomena ini ternyata bukan sekadar anggapan, melainkan didukung oleh data yang cukup mencengangkan. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh lembaga riset pasar dan konsumen, tercatat bahwa permintaan pinjaman pribadi dan pembiayaan konsumen meningkat signifikan hingga 30-40% menjelang bulan puasa dan Lebaran dalam beberapa tahun terakhir.
 
Tidak hanya itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga pernah mengingatkan tentang meningkatnya kasus gagal bayar yang bermula dari konsumsi berlebihan saat hari raya. Banyak masyarakat yang terjebak pada siklus utang baru untuk menutup utang lama, yang akhirnya membuat kondisi keuangan semakin kacau balau.
 
Sudut Pandang Ahli Keuangan
 
Ahli perencanaan keuangan sering kali menekankan bahwa berhutang untuk konsumsi non-produktif—seperti gaya hidup Lebaran—adalah langkah yang sangat berisiko. Menurut mereka, utang sebaiknya hanya digunakan untuk hal-hal yang memiliki nilai investasi atau produktif, seperti modal usaha atau pembelian aset yang nilainya bisa meningkat.
 
"Utang konsumtif ibarat memakan buah simalakama. Saat itu terasa enak karena kebutuhan gaya terpenuhi, tapi setelahnya rasa bersalah dan beban pikiran datang menghantui. Lebaran hanya berlangsung beberapa hari, tapi utang bisa menjadi bayangan yang menghantui berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun ke depan," ungkap salah satu perencana keuangan.
 
Dampak Nyata: Dari Gengsi ke Kesengsaraan
 
Apa yang dimulai sebagai upaya menjaga gengsi atau memuaskan hati keluarga, perlahan berubah menjadi beban pikiran yang berat. Inilah yang dimaksud dengan "mengesarakn diri" (menyengsarakan diri).
 
Kisah nyata sering kita dengar di sekitar kita. Ada keluarga yang harus menjual aset rumahnya karena gagal melunasi pinjaman online yang diambil demi liburan dan belanja Lebaran. Ada pula pekerja yang gajinya dipotong terus-menerus oleh lembaga pemberi pinjaman hingga sisa uang untuk kebutuhan pokok sehari-hari pun tidak cukup.
 
Saat tagihan mulai datang bertubi-tubi, kebahagiaan Lebaran pun perlahan memudar. Bukannya menikmati sisa suasana hari raya, banyak orang justru harus pusing memutar otak mencari cara untuk melunasi utang. Kualitas hidup menurun, hubungan dengan keluarga atau teman bisa retak karena masalah uang, dan stres pun menghampiri. Bahkan, dalam kasus yang ekstrem, tekanan mental akibat tumpukan utang ini bisa memicu masalah kesehatan mental yang lebih serius.
 
Kembali ke Inti Makna Lebaran
 
Lebaran sejatinya bukan tentang seberapa mewah pakaian yang dikenakan atau seberapa banyak hidangan di meja. Inti dari hari raya adalah tentang kebersamaan, silaturahmi, dan rasa syukur. Tidak ada salahnya ingin tampil bagus atau berbagi, asalkan sesuai dengan kemampuan finansial.
 
Sebagai masyarakat yang bijak, kita perlu mengubah pola pikir ini. Jangan biarkan euphoria Lebaran membutakan logika keuangan. Lebih baik merayakan Lebaran secara sederhana namun hati tenang dan bebas utang, daripada tampil mewah namun dibayangi ketakutan akan tagihan.
 
Ingatlah, kebahagiaan yang dibangun di atas utang tidak akan pernah terasa nyata dan damai. Mari rayakan Lebaran dengan cara yang sehat, bijak, dan sesuai kemampuan. Jangan paksa diri berhutang, demi masa depan yang lebih tenang dan terhindar dari kesengsaraan akibat utang.

Baca Juga
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak

Iklan