BREAKING NEWS
Isu Sertifikasi Damkar Berbayar Dipastikan Tidak Benar | Ratusan Taruna Akpol Turun ke Aceh Tamiang, Polri Dorong Akselerasi Pemulihan Pascabencana | Waketum LAHAM RI Akram Pasau dan Ketua DPW Gorontalo Janes Komenaung Minta DPD Tidak Mendukung Perusahaan | Patroli Pantera Presisi Polres Bitung Hadir di Tengah Masyarakat, Jaga Kota Tetap Aman dan Nyaman | Polsek Singkil Klarifikasi Pengaduan Warga yang Viral di Media Sosial
🕌 JADWAL SHOLAT HARI INI: Subuh 04:30 | Dzuhur 12:00 | Ashar 15:15 | Maghrib 18:00 | Isya 19:15 WIB || ☀️ CUACA HARI INI: Cerah Berawan, Suhu 28°C || 💰 HARGA EMAS HARI INI: Rp 1.250.000 per gram || 🕌 JADWAL SHOLAT BESOK: Subuh 04:31 | Dzuhur 12:00 | Ashar 15:15 | Maghrib 18:00 | Isya 19:16 WIB || 🌧️ CUACA BESOK: Hujan Ringan, Suhu 26°C || 💰 HARGA EMAS BESOK (PERKIRAAN): Rp 1.245.000 per gram
🏠 Berita>Update

TNI AL Unjuk Kekuatan di Babel, Latihan Anti Akses dan Anti Amfibi Disertai Pameran Sitaan Timah Rp173,6 Miliar

PANGKALPINANG, Sumsel Pos — Dentuman meriam 76 mm memecah cakrawala perairan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Minggu (15/2). Di hadapan jajaran pejabat daerah dan unsur Forkopimda, Muhammad Ali selaku Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) memimpin langsung Latihan Anti Akses dan Anti Amfibi yang digelar TNI AL sebagai bagian dari penguatan pertahanan laut nasional.

Latihan tersebut turut disaksikan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, dan melibatkan kekuatan penuh unsur laut dan udara. Sejumlah Kapal Perang Republik Indonesia (KRI), pesawat patroli maritim, helikopter, drone surveilans, drone kamikaze, pasukan pendarat hingga sistem senjata andalan Korps Marinir berupa Multi Launch Rocket System (MLRS) digerakkan dalam satu skenario operasi terpadu.

Aksi dimulai dengan penembakan meriam 76 mm dari KRI, dilanjutkan operasi Visit Board Search and Seizure (VBSS) oleh prajurit dari KRI, simulasi penindakan target laut, hingga pendaratan amfibi pasukan Marinir di garis pantai. Roket MLRS meluncur menghantam sasaran, menandai keseriusan TNI AL dalam membangun kemampuan anti akses dan anti amfibi di wilayah strategis yang kaya sumber daya alam tersebut.

Latihan ini bukan sekadar demonstrasi kekuatan militer, tetapi juga pesan tegas bahwa perairan Bangka Belitung berada dalam pengawasan ketat negara. Wilayah ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai kawasan dengan potensi tambang timah dan logam tanah jarang yang rawan praktik penyelundupan dan pertambangan ilegal.

Usai latihan, perhatian publik tertuju pada deretan barang bukti hasil Operasi Keamanan Laut yang dipamerkan. Tumpukan timah balok, pasir timah, serta logam tanah jarang seperti zircon, ilmenite, dan monazite menjadi bukti konkret operasi penindakan yang telah dilakukan.

Total hasil tangkapan mencapai 496,892 ton timah dan 10.762,117 ton logam tanah jarang dengan estimasi nilai sekitar Rp173,6 miliar. Angka tersebut menggambarkan besarnya potensi kerugian negara yang berhasil dicegah sekaligus menunjukkan skala praktik ilegal yang selama ini menggerogoti sumber daya alam nasional.

Kasal menegaskan bahwa latihan kali ini merupakan yang pertama dengan integrasi teknologi baru, termasuk penggunaan drone surveilans, drone kamikaze, serta sistem Mobile Command yang memungkinkan pengendalian operasi secara real time dan terintegrasi. Modernisasi ini, menurutnya, menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan keamanan laut yang semakin kompleks.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa keberhasilan operasi ini merupakan bagian dari implementasi perintah Presiden RI untuk memperketat pengawasan dan mencegah penyelundupan sumber daya alam. Fokus tersebut selaras dengan komitmen Prabowo Subianto dalam memberantas illegal mining dan praktik penyelundupan yang tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga menimbulkan kerusakan lingkungan yang masif.

Di tengah dinamika ekonomi global dan tingginya permintaan logam strategis, penguatan sistem pertahanan dan penegakan hukum laut menjadi kebutuhan mendesak. Bangka Belitung sebagai salah satu sentra timah dunia memiliki nilai strategis yang tak hanya ekonomi, tetapi juga geopolitik.

Latihan Anti Akses dan Anti Amfibi ini sekaligus menjadi pernyataan bahwa kedaulatan laut Indonesia tidak bisa ditawar. Di atas gelombang dan di garis pantai, TNI AL menunjukkan bahwa pertahanan dan perlindungan sumber daya alam berjalan beriringan — demi menjaga kepentingan negara hari ini dan generasi mendatang. (KBO Babel)
Baca Juga
Lebih baru Lebih lama
);
f t P
GULIR UNTUK MELANJUTAKAN MELIHAT BERITA
SUMSELPOS
BERITA SUMATRA BAGIAN SELATAN