BREAKING NEWS
Isu Sertifikasi Damkar Berbayar Dipastikan Tidak Benar | Ratusan Taruna Akpol Turun ke Aceh Tamiang, Polri Dorong Akselerasi Pemulihan Pascabencana | Waketum LAHAM RI Akram Pasau dan Ketua DPW Gorontalo Janes Komenaung Minta DPD Tidak Mendukung Perusahaan | Patroli Pantera Presisi Polres Bitung Hadir di Tengah Masyarakat, Jaga Kota Tetap Aman dan Nyaman | Polsek Singkil Klarifikasi Pengaduan Warga yang Viral di Media Sosial
🕌 JADWAL SHOLAT HARI INI: Subuh 04:30 | Dzuhur 12:00 | Ashar 15:15 | Maghrib 18:00 | Isya 19:15 WIB || ☀️ CUACA HARI INI: Cerah Berawan, Suhu 28°C || 💰 HARGA EMAS HARI INI: Rp 1.250.000 per gram || 🕌 JADWAL SHOLAT BESOK: Subuh 04:31 | Dzuhur 12:00 | Ashar 15:15 | Maghrib 18:00 | Isya 19:16 WIB || 🌧️ CUACA BESOK: Hujan Ringan, Suhu 26°C || 💰 HARGA EMAS BESOK (PERKIRAAN): Rp 1.245.000 per gram
🏠 Berita>Update

Lapor Bu Kapolres! Diduga jadi sarang ekstasi dan eksploitasi perempuan, BARAHATI desak Koin Bar dirazia setiap hari

Pematangsiantar, Sumse Pos — Tempat hiburan malam Koin Bar di Jalan Parapat, Kota Pematangsiantar, kembali menjadi sorotan tajam publik. Tempat tersebut diduga kuat menjadi lokasi peredaran narkoba jenis pil ekstasi, sekaligus arena dugaan eksploitasi perempuan yang disebut-sebut dikendalikan oleh seorang pria berinisial NZ. Dugaan ini bahkan dinilai telah mengarah pada praktik Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), namun ironisnya disebut belum mendapat penindakan tegas dari aparat kepolisian setempat.

Ketua Komunitas Barisan Rakyat Hancurkan Tindakan Ilegal (BARAHATI), Zulfikar Efendi, menyayangkan sikap Polres Pematangsiantar yang dinilainya terkesan menutup mata terhadap keresahan publik tersebut. Menurutnya, pembiaran atas dugaan aktivitas ilegal yang berulang kali mencuat justru memperkuat kecurigaan masyarakat bahwa hukum tidak ditegakkan secara adil dan tegas.

Zulfikar menyebut, dugaan peredaran pil ekstasi di Koin Bar bukan isu baru. Ia mengklaim informasi tersebut telah lama beredar di tengah masyarakat, bahkan disampaikan oleh sejumlah pihak yang mengaku pernah beraktivitas di lokasi itu. Namun hingga kini, kata dia, belum terlihat langkah serius berupa razia rutin maupun penindakan terbuka yang dapat menjawab kegelisahan publik.

Lebih jauh, BARAHATI juga menyoroti dugaan eksploitasi perempuan yang disebut berada di bawah kendali NZ. Zulfikar menilai, jika dugaan tersebut benar, maka persoalan ini tidak lagi sekadar pelanggaran administrasi atau narkotika, melainkan telah masuk kategori kejahatan serius yang menyangkut martabat manusia. “Kalau perempuan dieksploitasi dan dikendalikan, itu sudah mengarah ke TPPO. Ini kejahatan berat,” tegasnya.

Dalam konteks tersebut, Zulfikar secara terbuka menyebut sikap Polres Pematangsiantar sebagai bentuk kelalaian yang mencederai rasa keadilan masyarakat. Ia menilai, pembiaran terhadap dugaan kejahatan yang berulang hanya akan memperbesar dampak kerusakan sosial, khususnya bagi generasi muda yang rentan terjerumus narkoba dan praktik eksploitasi.

Atas dasar itu, BARAHATI mendesak Kapolres Pematangsiantar AKBP Sah Udur T.M. Sitinjak agar segera mengambil langkah tegas. Zulfikar meminta Kapolres secara langsung memerintahkan jajarannya untuk melakukan razia setiap hari di Koin Bar, bukan sekadar tindakan seremonial atau razia sesaat yang dinilai tidak menyentuh akar persoalan.

“Kalau memang tidak ada yang dilindungi, kenapa takut razia setiap hari? Justru dengan razia rutin, semuanya akan terbuka. Mana yang bersih, mana yang busuk,” ujar Zulfikar dengan nada keras pada Selasa (10/2/2026). Ia menegaskan, ketegasan aparat adalah kunci untuk memulihkan kepercayaan publik yang kian tergerus.

Menutup pernyataannya, Zulfikar menegaskan bahwa BARAHATI tidak akan berhenti mengawal persoalan ini. Ia menyebut, bila aparat tetap diam, maka tekanan publik akan semakin besar. “Ini bukan serangan pribadi, ini jeritan rakyat. Jika hukum tidak bergerak, maka kecurigaan publik akan terus tumbuh,” pungkasnya.
Baca Juga
Lebih baru Lebih lama
);
f t P
GULIR UNTUK MELANJUTAKAN MELIHAT BERITA
SUMSELPOS
BERITA SUMATRA BAGIAN SELATAN