BREAKING NEWS
Isu Sertifikasi Damkar Berbayar Dipastikan Tidak Benar | Ratusan Taruna Akpol Turun ke Aceh Tamiang, Polri Dorong Akselerasi Pemulihan Pascabencana | Waketum LAHAM RI Akram Pasau dan Ketua DPW Gorontalo Janes Komenaung Minta DPD Tidak Mendukung Perusahaan | Patroli Pantera Presisi Polres Bitung Hadir di Tengah Masyarakat, Jaga Kota Tetap Aman dan Nyaman | Polsek Singkil Klarifikasi Pengaduan Warga yang Viral di Media Sosial

Dari Lapangan Ghorib ke Ingatan Rakyat: Yus Derahman dan Jalan Politik Kebudayaan Bangka Barat

Penyampak, Bangka Barat , Sumsel Pos — Dentang kayu pengaduk yang beradu dengan dinding kuali besar di Lapangan Sepak Bola Ghorib, Desa Penyampak, Selasa (27/1/2026), tidak sekadar menandai dimulainya Festival Dodol Bergema 2026. Di tengah kepulan asap dodol dan kerumunan warga, dentang itu menjelma pesan politik kebudayaan bahwa negara hadir bukan dengan spanduk, tetapi dengan pengakuan dan keberpihakan.

Wakil Bupati Bangka Barat H. Yus Derahman secara resmi membuka festival adat tersebut, sebuah tradisi tahunan masyarakat Penyampak dalam menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Kehadiran Yus Derahman tidak berhenti pada seremoni. Ia datang membawa narasi yang kini jarang ditemui dalam praktik pemerintahan daerah yaitu kekuasaan yang berdiri di atas akar budaya, bukan di atas jarak birokrasi.

“Dodol Bergema adalah identitas masyarakat Penyampak dan Bangka Barat. Tradisi ini tidak ditemukan di daerah lain. Karena itu, pemerintah berkewajiban menjaga dan mengembangkannya,” tegas Yus Derahman dalam sambutannya.

Pernyataan itu bukan sekadar retorika kebudayaan. Di bawah kepemimpinan Yus Derahman, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat secara resmi menetapkan Dodol Bergema sebagai Adat Istiadat Kebudayaan Daerah, sebuah langkah pembangunan kebudayaan yang menempatkan tradisi lokal sebagai bagian dari kebijakan pembangunan, bukan sekadar agenda tahunan.

“Kegiatan ini bukan hanya soal silaturahmi, tetapi tentang bagaimana budaya menjadi pintu masuk kebangkitan ekonomi rakyat, pariwisata, dan industri kecil berbasis kearifan lokal,” lanjutnya.

Tahun ini, 83 kuali besar berjajar di lapangan terbuka. Warga dari berbagai latar belakang bergantian ngirok mengaduk dodol tanpa sekat sosial. Tidak ada panggung eksklusif, tidak ada ruang VIP adat. Dalam lanskap sosial itu, kehadiran Wakil Bupati yang turun langsung dan menyatu dengan tradisi menjadi simbol kuat tentang kepemimpinan yang membumi.

Dalam perspektif Koentjaraningrat, nilai budaya hidup melalui tindakan kolektif. Namun nilai itu akan rapuh tanpa perlindungan kebijakan. Di titik inilah peran politik Yus Derahman menjadi relevan dalam memastikan adat tidak hanya diwariskan, tetapi juga dilindungi secara struktural.

Kepala Desa Penyampak Doni, S.H. mengakui bahwa keberlanjutan Dodol Bergema hari ini tidak bisa dilepaskan dari perhatian pemerintah daerah.

“Walaupun ekonomi masyarakat terbatas, dukungan pemerintah daerah membuat warga yakin bahwa adat ini penting. Itu menumbuhkan rasa percaya diri dan kebanggaan,” ujar Doni.

Festival Dodol Bergema kini masuk kalender pariwisata Kabupaten Bangka Barat, menandai pergeseran paradigma pembangunan daerah bah budaya tidak lagi ditempatkan di pinggir, melainkan di pusat perencanaan. Sebuah pendekatan yang secara politik memperlihatkan arah kepemimpinan Wakil Bupati yang memilih identitas lokal sebagai kekuatan elektoral dan sosial.

Antropolog Clifford Geertz menyebut ritual komunal sebagai “teks sosial”. Dalam konteks Penyampak, teks itu dibaca sebagai pesan bahwa Bangka Barat tidak sedang mengejar modernitas dengan memutus akar, melainkan menegosiasikannya dengan tradisi. Negara melalui figur Wakil Bupati hadir sebagai fasilitator, bukan pengendali.

Tidak ada mesin industri dalam proses memasak dodol. Yang bekerja adalah tenaga manusia, waktu dan kesabaran. Sebuah metafora yang paralel dengan gaya kepemimpinan yang ditampilkan yaitu pelan, konsisten dan berakar.

Pemikiran Edi Sedyawati tentang kebudayaan hidup menemukan pembuktiannya di sini. Dodol Bergema tidak dikurung sebagai tontonan, tetapi dibiarkan hidup melalui praktik masyarakat, dengan dukungan kebijakan pemerintah daerah.

Ratusan warga dan pengunjung dari luar daerah hadir. Forkopimda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Forkopimda Bangka Barat dan Tempilang, kepala desa se-Bangka Barat, kepala sekolah, tokoh adat dan tokoh masyarakat menyatu dalam satu ruang budaya. Para pejabat yang ikut mengaduk dodol secara simbolis mengirimkan pesan politik yang jelas bahwa adat bukan pelengkap kekuasaan, melainkan fondasinya.

Dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Bangka Barat dan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Namun di lapangan, undang-undang itu menemukan wajahnya dalam figur Wakil Bupati yang memilih hadir, menyapa dan menguatkan.

Dalam perspektif James P. Spradley, Dodol Bergema adalah ruang pendidikan budaya. Anak-anak belajar nilai bukan dari pidato, melainkan dari keterlibatan. Dan negara, melalui kebijakan dan simbol kepemimpinan, memastikan ruang belajar itu tetap terbuka.

Di Desa Penyampak, kuali-kuali tua bukan hanya memasak dodol. Ia menjadi simbol pembangunan kebudayaan Bangka Barat yang merawat, bukan menghapus tetapi yang mendekat, bukan menjauh.

Di Lapangan Ghorib, pada sore yang perlahan menguning oleh asap dodol, satu pesan menguat bahwa 
kepemimpinan yang memahami budaya akan selalu menemukan tempat di ingatan rakyat.
Baca Juga
Lebih baru Lebih lama
);
f t P
GULIR UNTUK MELANJUTAKAN MELIHAT BERITA
SUMSELPOS
BERITA SUMATRA BAGIAN SELATAN